Kamis, 22 Februari 2018

Posted by Muhammad Nafarin on Februari 22, 2018 No comments
Hal Yang Bisa Membuat Anda Bangkrut

Bangkrut adalah kata-kata yang mengerikan dan pastinya sebisa mungkin dihindari. Penyebab kebangkrutan ada bermacam-macam. Bila gagal mengidentifikasi penyebabnya, maka siap-siap bergelut dengan masalah keuangan.

Jangan khawatir, Kami akan berbagi informasi penyebab seseorang bisa bangkrut, dan juga cara mengatasinya. Berikut ini ulasannya.

1. Manajemen utang yang buruk

Punya manajemen dalam urusan utang saja tak cukup. Lebih dari itu, harus ada manajemen utang yang baik.

Beberapa orang mengambil pilihan utang demi kebutuhan. Utang bukanlah pilihan buruk. Berbeda dengan utang tanpa rencana matang untuk melunasinya.

Sebelum berutang, hitung dulu kemampuan finansial kita untuk menentukan seberapa banyak pinjaman yang bisa diambil dan berapa lama jangka waktu pengembaliannya. Umumnya, cicilan utang per bulan tak boleh lebih dari 30 persen penghasilan.

Misalnya total gaji Rp 10 juta, cicilan yang disarankan adalah Rp 3 juta per bulan. Jika lebih dari itu, ada risiko gagal bayar yang akibatnya dapat membuat sesorang bangkrut.

Selain itu, harus ada prioritas pelunasan utang jika ada beberapa cicilan. Lunasi yang bunganya paling besar dan sudah deadline. Bila ada rezeki, prioritaskan untuk bayar utang ketimbang senang-senang.

2. Gaya hidup konsumtif

Banyak kebangkrutan yang bermula dari gaya hidup konsumtif. Saat proses belanja makin mudah, godaan konsumtif makin besar.

Untuk mengatasi godaan itu, kita harus menanamkan prinsip kebutuhan di atas keinginan. Penuhi dulu segala kebutuhan, barulah memikirkan keinginan.

Misalnya harus bayar tagihan kartu kredit, tapi ada ponsel keluaran terbaru. Orang yang memiliki gaya hidup konsumtif pasti memilih untuk menunda pembayaran tagihan, atau setidaknya bayar nominal minimum, lalu kredit ponsel tersebut.

Ini berbahaya, terutama bila masih punya ponsel yang bagus. Tanpa sadar, kita sedang menggali kubur sendiri jika mengutamakan keinginan di atas segalanya.

3. Tak memiliki dana darurat

Hidup kadang tak sesuai dengan rencana, termasuk dalam hal keuangan. Karena itulah dana darurat sangat berguna demi mencegah kebangkrutan.

Dana darurat adalah uang yang disisihkan dari penghasilan tiap bulan hingga dirasa cukup sebagai dana cadangan kalau terjadi sesuatu yang membutuhkan dana besar. Misalnya mendadak kena pemutusan hubungan kerja karena terjadi krisis di perusahaan.

Mungkin ada pesangon, tapi dana darurat tetap dibutuhkan karena tak lagi mendapat gaji tiap bulan. 

Secara umum, untuk lajang, dana darurat total disarankan sebesar 5-7 kali lipat penghasilan per bulan. Sedangkan untuk yang sudah berkeluarga, setidaknya delapan kali penghasilan per bulan.

4. Tak memiliki proteksi (asuransi)

Mirip dengan dana darurat, proteksi berupa asuransi diperlukan untuk mengatasi ancaman bangkrut. Asuransi sendiri dibedakan menjadi beberapa macam sesuai kegunaannya.

Tinggal kita lihat mana yang paling pas dengan risiko yang kita tanggung. Untuk kepala keluarga dengan istri tak bekerja, misalnya, asuransi jiwa bisa dipertimbangkan untuk antisipasi jika terjadi hal yang membuatnya tak bisa lagi cari nafkah.

Dana pertanggungan asuransi bisa dimanfaatkan ketika hal itu terjadi. Dari kantor mungkin sudah ada asuransi, tapi biasanya proteksinya terbatas. Untungnya manfaat asuransi swasta bisa dikombinasikan dengan BPJS Kesehatan.

5. Kerja seadanya

Bangkrut tak selalu berarti jatuhnya seseorang ke lubang utang yang dalam dengan tiba-tiba. Ketika orang bekerja seadanya alias kariernya mentok, artinya penghasilannya juga tak akan berubah.

Walhasil, kebangkrutan akan menyapa lantaran biaya hidup yang makin tinggi tak selaras dengan gaji yang diterima. Ujung-ujungnya berutang untuk mengakali defisit.

Awalnya mungkin masalah tampak terselesaikan. Padahal bom waktu sedang ditanam dan terus berdetak hingga waktunya meledak. Utang akan terus berbunga sampai akhirnya kita tak sanggup membayarnya.
Categories: ,

0 komentar:

Posting Komentar