Sabtu, 13 Juli 2019

Mbah Sadiman, Pecinta Alam Penggerak Penghijauan di Wonogiri

Modern ini, kelestarian lingkungan tidak lagi dipedulikan. Banyak masyarakat yang acuh tak acuh dengan kondisi lingkungannya. Berbanding terbalik dengan Mbah Sadiman. Di usianya yang menginjak 67 tahun, beliau masih aktif melakukan penghijauan lahan di Wonogiri. Beliau sadar pentingnya pepohonan sebagai sumber air dan pencegah longsor. Udara juga jadi bersih dan segar.

Sosok Mbah Sadiman

Mbah Sadiman ini dikenal sebagai pribadi yang gigih dalam memperjuangkan suatu hal, terlebih apa yang menjadi tekadnya. Seorang kakek yang tinggal di Wonogiri, Jawa Tengah, ini sangat gigih dalam bekerja. Beliau tinggal berdua bersama istrinya dan bekerja menggarap lahan warga. Beliau juga rajin membabat rumput di areal hutan sekitar tempat tinggalnya untuk dijual.

Melalui pekerjaannya tersebut, beliau bersama istrinya menyambung hidup. Kegiatan sehari-harinya tersebut dilakukan dengan baik setiap harinya. Mbah Sadiman juga diberi pekerjaan sebagai penyadap getah pinus sejak bukit di area rumahnya dijadikan hutan produktif di bawah pengawasan Perhutani.

Alasan Niatnya Menghijaukan Lingkungan Secara Sukarela

Setelah bertahun-tahun bekerja di area hutan, rasa kepeduliannya terhadap lingkungan semakin besar. Awalnya, perubahan bukit menjadi hutan produktif oleh Perhutani tersebut dikarenakan adanya program penghijauan. Kondisi bukit yang sudah gundul tersebut dihijaukan kembali agar tidak menjadi lahan kritis. Warga juga akan mendapatkan sumber air jernih dan memadai.

Sebagai orang biasa, beliau juga ingin berguna bagi orang lain. Berdasarkan kondisi lahan tersebut, Mbah Sadiman tergerak untuk ikut serta dalam program penghijauan tersebut, namun secara sukarela. Sosoknya tidak haus materi atau apresiasi. Beliau hanya ingin melestarikan lingkungan dan menyelesaikan persoalan lingkungan berupa banjir, kekeringan, dan kesulitan air bersih.

Perjuangan dan Kegiatan Penghijauan Lingkungan

Di tengah cibiran orang-orang yang menganggapnya mencari sensasi, beliau tidak peduli lagi. Baginya, niat untuk kesejahteraan bersama lebih penting. Perjuangan untuk menghijaukan lingkungan justru semakin besar. Beliau ingin membuktikan bahwa bisa berjuang jika sudah bertekad untuk memperbaiki suatu hal.

Beliau meminta izin kepada pemerintah lewat Perhutani untuk menanam bibit beringin di lokasi yang tidak ditanami pohon pinus. Perhutani pun mengizinkannya. Sejak itu, Mbah Sadiman menyisihkan uang penghasilannya untuk membeli bibit pohon beringin. Beliau berpikir, pohon beringin nantinya dapat menjadi sumber air dan mengatasi banjir dengan akarnya yang kuat.

Berbeda dengan pohon pinus yang ditanam di areal hutan, pohon beringin bisa menyerap air lebih banyak dengan akarnya yang menunjam dan kuat. Dengan demikian, persoalan banjir bisa diatasi. Kekeringan juga diakhiri karena sumber air terkondisi dengan baik. Beliau bisa ikut membantu berkontribusi untuk lingkungan tempat tinggalnya.

Meskipun bibit beringin tergolong mahal, hal tersebut tidak menurunkan niat Mbah Sadiman. Bibit beringin ditawarkan seharga Rp55.000,00-Rp100.000,00 setiap biji. Penanaman bibit yang dirawatnya terus menerus, kini tumbuh baik sampai berjumlah ribuan di areal seluas 100 hektar milik Perhutani. Ditambah lagi, beliau sudah menanam bibit lamtoro di seluruh penjuru hutan.

Tidak hanya itu, ternyata Mbah Sadiman adalah sosok pecinta alam sejati. Terbukti dengan kontribusi beliau yang ikut serta melakukan reboisasi ketika ada pohon yang mati di area hutan. Berkat usahanya, keadaan mulai membaik dalam beberapa tahun terakhir. Mata air di Bukit Gendol dan Ampyangan yang semula gundul, sudah ada kembali menghidupi 3000-an jiwa.

Sungguh akhir yang romantis dan mengharukan dari hal yang awalnya dicibir. Masyarakat akhirnya bisa menikmati buah dari perjuangan mulia Mbah Sadiman. Berawal dari tindakan Mbah Sadiman ini, asuransi wakaf bisa ikut memberikan donasi penghijauan lingkungan. Melalui hal tersebut, wakaf bisa tersalurkan dengan baik yaitu untuk kemakmuran orang yang membutuhkan.

Perjuangan Mbah Sadiman sangat pantas diapresiasi. Meskipun tidak haus apresiasi, beliau sudah berjuang menyelamatkan lingkungan. Hadiah kompetisi Blog Berlipatnya Berkah dari Allianz sangat pantas diterimanya. Sesuai dengan tujuan wakaf, hadiah dari asuransi wakaf tersebut mampu dikelola sebagai anggaran penghijauan lingkungan. Nantinya, semakin banyak area hijau.
Juli 13, 2019 Nafarin
Mbah Sadiman, Pecinta Alam Penggerak Penghijauan di Wonogiri

Modern ini, kelestarian lingkungan tidak lagi dipedulikan. Banyak masyarakat yang acuh tak acuh dengan kondisi lingkungannya. Berbanding terbalik dengan Mbah Sadiman. Di usianya yang menginjak 67 tahun, beliau masih aktif melakukan penghijauan lahan di Wonogiri. Beliau sadar pentingnya pepohonan sebagai sumber air dan pencegah longsor. Udara juga jadi bersih dan segar.

Sosok Mbah Sadiman

Mbah Sadiman ini dikenal sebagai pribadi yang gigih dalam memperjuangkan suatu hal, terlebih apa yang menjadi tekadnya. Seorang kakek yang tinggal di Wonogiri, Jawa Tengah, ini sangat gigih dalam bekerja. Beliau tinggal berdua bersama istrinya dan bekerja menggarap lahan warga. Beliau juga rajin membabat rumput di areal hutan sekitar tempat tinggalnya untuk dijual.

Melalui pekerjaannya tersebut, beliau bersama istrinya menyambung hidup. Kegiatan sehari-harinya tersebut dilakukan dengan baik setiap harinya. Mbah Sadiman juga diberi pekerjaan sebagai penyadap getah pinus sejak bukit di area rumahnya dijadikan hutan produktif di bawah pengawasan Perhutani.

Alasan Niatnya Menghijaukan Lingkungan Secara Sukarela

Setelah bertahun-tahun bekerja di area hutan, rasa kepeduliannya terhadap lingkungan semakin besar. Awalnya, perubahan bukit menjadi hutan produktif oleh Perhutani tersebut dikarenakan adanya program penghijauan. Kondisi bukit yang sudah gundul tersebut dihijaukan kembali agar tidak menjadi lahan kritis. Warga juga akan mendapatkan sumber air jernih dan memadai.

Sebagai orang biasa, beliau juga ingin berguna bagi orang lain. Berdasarkan kondisi lahan tersebut, Mbah Sadiman tergerak untuk ikut serta dalam program penghijauan tersebut, namun secara sukarela. Sosoknya tidak haus materi atau apresiasi. Beliau hanya ingin melestarikan lingkungan dan menyelesaikan persoalan lingkungan berupa banjir, kekeringan, dan kesulitan air bersih.

Perjuangan dan Kegiatan Penghijauan Lingkungan

Di tengah cibiran orang-orang yang menganggapnya mencari sensasi, beliau tidak peduli lagi. Baginya, niat untuk kesejahteraan bersama lebih penting. Perjuangan untuk menghijaukan lingkungan justru semakin besar. Beliau ingin membuktikan bahwa bisa berjuang jika sudah bertekad untuk memperbaiki suatu hal.

Beliau meminta izin kepada pemerintah lewat Perhutani untuk menanam bibit beringin di lokasi yang tidak ditanami pohon pinus. Perhutani pun mengizinkannya. Sejak itu, Mbah Sadiman menyisihkan uang penghasilannya untuk membeli bibit pohon beringin. Beliau berpikir, pohon beringin nantinya dapat menjadi sumber air dan mengatasi banjir dengan akarnya yang kuat.

Berbeda dengan pohon pinus yang ditanam di areal hutan, pohon beringin bisa menyerap air lebih banyak dengan akarnya yang menunjam dan kuat. Dengan demikian, persoalan banjir bisa diatasi. Kekeringan juga diakhiri karena sumber air terkondisi dengan baik. Beliau bisa ikut membantu berkontribusi untuk lingkungan tempat tinggalnya.

Meskipun bibit beringin tergolong mahal, hal tersebut tidak menurunkan niat Mbah Sadiman. Bibit beringin ditawarkan seharga Rp55.000,00-Rp100.000,00 setiap biji. Penanaman bibit yang dirawatnya terus menerus, kini tumbuh baik sampai berjumlah ribuan di areal seluas 100 hektar milik Perhutani. Ditambah lagi, beliau sudah menanam bibit lamtoro di seluruh penjuru hutan.

Tidak hanya itu, ternyata Mbah Sadiman adalah sosok pecinta alam sejati. Terbukti dengan kontribusi beliau yang ikut serta melakukan reboisasi ketika ada pohon yang mati di area hutan. Berkat usahanya, keadaan mulai membaik dalam beberapa tahun terakhir. Mata air di Bukit Gendol dan Ampyangan yang semula gundul, sudah ada kembali menghidupi 3000-an jiwa.

Sungguh akhir yang romantis dan mengharukan dari hal yang awalnya dicibir. Masyarakat akhirnya bisa menikmati buah dari perjuangan mulia Mbah Sadiman. Berawal dari tindakan Mbah Sadiman ini, asuransi wakaf bisa ikut memberikan donasi penghijauan lingkungan. Melalui hal tersebut, wakaf bisa tersalurkan dengan baik yaitu untuk kemakmuran orang yang membutuhkan.

Perjuangan Mbah Sadiman sangat pantas diapresiasi. Meskipun tidak haus apresiasi, beliau sudah berjuang menyelamatkan lingkungan. Hadiah kompetisi Blog Berlipatnya Berkah dari Allianz sangat pantas diterimanya. Sesuai dengan tujuan wakaf, hadiah dari asuransi wakaf tersebut mampu dikelola sebagai anggaran penghijauan lingkungan. Nantinya, semakin banyak area hijau.